Tuesday, February 25, 2014

Perang Korea, 1950 - 1953


Perang Korea merupakan konflik militer antara Korea Selatan, yang dibantu oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Korea Utara, yang dibantu oleh Cina, serta dengan bantuan peralatan militer dari Uni Soviet. Karena kedua belah pihak Korea masing-masing didukung oleh pihak eksternal, maka perang Korea ini dijuluki sebagai "proxy war".

Perang Korea dimulai pada 25 Juni 1950 dan berakhir dengan ditandatanganinya perjanjian damai pada 27 Juli 1953.  Dari sudut pandang militer, perang ini merupakan kombinasi strategi dan taktik Perang Dunia I dan Perang Dunia II: perang dimulai dengan pergerakan serangan infantri secara cepat kemudian disusul pemboman dari udara, namun sejak Juli 1951 perang berubah menjadi perang parit statis.


Latar Belakang

Penghujung abad ke-19 menyaksikan Jepang dan Rusia bertarung untuk memperebutkan semenanjung Korea. Perang antara kedua negara tersebut dikenal sebagai Russo-Japanese war, berlangsung pada 1904 - 1905, yang berakhir dengan kemenangan Jepang. Sejak itu semenanjung Korea berada di bawah kendali Jepang selama 35 tahun hingga akhir Perang Dunia II. 

Ketika Jepang menyerah kalah kepada Sekutu pada Perang Dunia II, pasukan-pasukan Jepang di Korea menyerahkan diri kepada pasukan Tentara Merah (Red Army) Uni Soviet di Parallel ke-38, dan kepada pasukan Amerika Serikat di selatan garis paralel tersebut. Pada waktu itu, Amerika Serikat dan Uni Sovyet menerima tanggungjawab mutual atas semenanjung Korea yang tadinya adalah daerah pendudukan Jepang. Uni Soviet menguasai wilayah utara hingga ke selatan sampai Parallel 38, sedangkan Amerika Serikat mengendalikan wilayah dari Parallel 38 ke selatan. 

Kegagalan untuk menyelenggarakan pemilihan bebas untuk seluruh semenanjung Korea memperkuat pemisahan antara utara dan selatan. Pihak utara pun kemudian membentuk pemerintahan komunis. Parallel 38 kemudian meningkat menjadi perbatasan politik di antara kedua Korea. Dua negara baru pun kemudian terbentuk: Republik Rakyat Demokratik Korea (Democratic People's Republic of Korea), atau dikenal sebagai Korea Utara, yang berhaluan komunis, dan Republik Korea Selatan (Republic of South Korea). Di sinilah kemudian pada tahun 1950 Perang Dingin mulai memanas.

Menjelang fajar pada hari Minggu 25 Juni 1950, Tentara Rakyat Korea Utara (North Korean People's Army, NKPA) melancarkan serangan besar-besaran ke Korea Selatan, melintasi Parallel 38. Serangan ini mereka sebut sebagai "Operasi Penyelamatan Tanah Air", dengan alasan untuk membalas provokasi yang dilancarkan oleh Korea Selatan sebelumnya. 

Pihak Korea Utara berhasil merebut ibu kota Korea Selatan, Seoul, dalam waktu seminggu. Pasukan Korea Utara mendesak pasukan Korea Selatan dan sejumlah kecil pasukan Amerika Serikat. Pasukan AS dalam waktu cepat mendapatkan bantuan dari Jepang, kemudian kembali lagi ke perimeter kecil di sekitar pelabuhan paling utara Pusan. Sementara itu, Korea Selatan meminta pertolongan kepada PBB, yang didukung 53 negara anggota PBB, dan 17 di antaranya bahkan mengirimkan pasukan untuk terbang ke Korea Selatan.



Sepanjang Agustus s.d. September, Korea Utara berusaha merebut Pusan, namun Jenderal Walton Walker, komandan U.S Eight Army, mampu menahan serangan tersebut, bahkan bersiap-siap untuk melakukan serangan balasan. Serangan balasan ini termasuk bagian dari pendaratan amfibi di Inchon pada 15 September 1950 (yang dirancang dan dilaksana dengan brilian oleh Jendral MacArthur) yang diarahkan untuk merebut kembali kota Seoul. Pada 16 September 1950, berkoordinasi dengan pendaratan amfibi, U.S Eight Army melancarkan serangan, menembus Pusan, bergabung dengan pasukan pendaratan, dan mengusir musuh keluar dari Korea Selatan. 

Sementara itu PBB kemudian memerintahkan pasukan-pasukannya untuk menindaklanjuti dan menghancurkan tentara Korea Utara, walaupun Cina mengancam untuk turun tangan. Setelah merebut Pyongyang (ibu kota Korea Utara), pasukan-pasukan PBB melaju ke utara melalui sungai Yalu, yakin bahwa Cina hanya menggertak. Ternyata tidak demikian...

Pada 25 November 1950, sebanyak 180.000 personil tentara Cina melakukan serangan masif terhadap pasukan PBB hingga terdesak mundur ke Selatan melampaui Parallel ke 38. Cina kemudian merebut Seoul pada awal Januari 1951. Jenderal Walker tewas dalam kecelakaan jeep dan digantikan oleh Jenderal Matthew Ridgway. Pada pertengahan Januari 1951 serangan Cina kehabisan tenaga sehingga pasukan PBB dapat melakukan serangan balik, merebut kembali Seoul pada 14 Maret 1951 dan menstabilkan garis depan sehingga berada pada sepanjang Parallel ke-38 pada awal April.

Pada 22 April 1951, Cina kembali melakukan serangan, namun dapat ditahan berkat aksi gagah berani pasukan PBB, misalnya seperti yang ditunjukkan oleh para anggota batalion Gloucestershire di sungai Imjin. Serangan Cina yang selanjuynya dimulai pada 15 Mei, namun sekali lagi dapat dipatahkan dan garis depan akhirnya dapat distabilkan sekitar 20 mil sebelah utara Parallel ke-38 pada pertengahan Juni. Cina menggunakan jumlah pasukan yang masif dalam upayanya untuk menghantam pasukan PBB, namun dapat ditahan melalui pemboman secara besar-besaran.

Sejak itu hingga penandatanganan gencatan senjata pada 27 Juli 1953, 

Saturday, February 15, 2014

Perang Gallipoli







Latar Belakang

Pertempuran Gallipoli dilatarbelakangi kekacauan politik yang berkecamuk di Balkan. Pada 1914, Kesultanan Ottoman di Turki yang sedang mengalami kebangkrutan merupakan "sick man of Europe". Setelah lama dikuasai oleh tirani Sultan Abdul Hamid II, calon kuat penggantinya adalah Mohammed V. Namun, kekuatan yang sebenarnya berada di tangan para "Young Turks", yakni sekelompok revolusioner muda, politisi dan oportunis. Sosok yang menonjol dalam kelompok tersebut adalah Enver Pasha, seorang berdarah Albania yang menjabat sebagai menteri urusan perang (war minister); dia mendapatkan jabatan itu setelah menembak mati pendahulunya.

Terkuras oleh perang di Balkan, Turki pun mencari bantuan dari luar negeri. Enver Pasha mendesak untuk bersekutu dengan Jerman, dan pada 1914 misi militer Jerman tiba di Turki untuk mereorganisasi angkatan darat Turki. Jerman melihat bahwa menjelang perang Eropa, Turki menduduki posisi yang strategis: wilayahnya mengangkangi selat Dardanelles, yang merupakan rute ekspor gandum Rusia, dan juga rute kontak antara Rusia dengan Inggris dan Perancis.

Dua hari sebelum meletusnya perang besar di Eropa, Jerman dan Turki menandatangani aliansi untuk melawan Rusia, walaupun Turki kala itu belum terlibat dalam aksi militer. Namun, ketika Inggris mengambil balik dua kapal perang yang telah dipesan Turki sebelumnya, Jerman mengambil kesempatan untuk mengkompensasi dengan dua kapal perang penjelajah, sehingga memperkuat aliansi militer Turki dengan Jerman di mata dunia. Inggris menarik pulang misi angkatan lautnya sehingga Jerman secara de facto mengendalikan angkatan laut Turki. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pemerintah Turki, pihak Jerman menutup selat Dardanelles dari lalu lintas internasional. Ketegangan antara Sekutu dan Turki secara resmi dimulai pada 31 Oktober 1914.

Pada 1915, front barat mengalami kebuntuan; barisan parit yang saling berhadapan membentang dari laut utara hingga ke Swiss. Di masa itu, Sekutu khawatir bahwa Rusia, yang sempoyongan akibat perubahan situasi serta terganggu pula oleh pergolakan internal, akan tumbang bila tidak mendapatkan pertolongan.

Winston Churchill dan Lord Kitchener telah mendiskusikan kemungkinan untuk menyerang Dardanelles; semestinya serangan tersebut dilakukan oleh Yunani, namun kemudian ternyata Yunani memihak Jerman. Rencana yang kemudian akan dijalankan adalah pendaratan di Semenanjung Gallipoli yang terletak di sisi Mediterania dari Dardanelles, yang diiringi oleh pendaratan di sisi Asia dari kanal. Sementara itu Dardanelles-nya sendiri akan ditundukkan oleh armada kapal perang. Armada ini akan memborbardir meriam-meriam pantai Turki, menyapu padang ranjau, dan mengamankan selat Dardanelles bagi perlintasan gandum dan munisi ke dan dari Rusia. Diharapkan pula unjuk kekuatan ini akan membuatYunani, Bulgaria, dan Rumania berubah pikiran untuk kembali bergabung dengan Sekutu dan dengan demikian menciptakan koalisi yang cukup kuat untuk melumatkan Turki.




Karena bantuan dari Yunani tak kunjung tiba, Kitchener mengirimkan Divisi ke-29 Angkatan Darat Inggris, divisi reguler yang terdiri dari para profesional. Namun empat divisi yang bertugas di Gallipoli akan merupakan divisi-divisi teritorial (Divisi ke-25 dan Divisi ke-52 hingga ke-54). Tiga divisi--yakni Divisi ke-10, ke-11 dan ke-13--akan merupakan pasukan baru Kitchener yang terdiri dari para sukarelawan. Satu divisi terdiri dari sekitar 18.000 personil, dilengkapi dengan sekitar 76 artileri, 48 senapan mesin Vickers, 5.000 kuda, 834 kendaraan dan 54 kendaraan bermotor.

Divisi lain yang juga bertugas di Gallipoli adalah Divisi Berkuda ke-2 Yeomanry, Divisi Angkatan Laut Kerajaan, Royal Marines, Brigade India, Gurkha Rifles, dan Divisi ke-14 Prince of Wales Own Sikh. Di atas segalanya, Gallipoli sinonim dengan Korps Angkatan Darat Australia dan Selandia Baru, yang dikenal sebagai Anzac Troops, yang mengenakan topi khas-nya yang terkenal. Walaupun baru dibentuk dan belum berpengalaman (menurut para perwira Inggris mereka yang kaku, para personil Anzac troops ini kasar dan kurang disiplin)., namun kualitas bertempur, kekuatan fisik, daya tahan dan keberanian mereka mengagumkan; mereka barangkali merupakan pasukan terbaik yang bertempur dalam Perang Besar (the Great War) kala itu. Sementara itu, sebagian besar dari unit Perancis di Gallipoli merupakan campuran dari orang Perancis asli dan unit-unit kolonial Perancis.




Artikel masih dalam proses, akan terus di-update....

Wednesday, February 12, 2014

Seni Perang Sun Tzu

Seni perang (the art of war) adalah sebuah risalah militer kuno yang dikaitkan dengan Sun Tzu, seorang jenderal berpangkat tinggi, ahli strategi dan taktik. Risalah tersebut terdiri dari 13 bab, yang masing-masing membahas satu aspek dalam peperangan. Risalah seni perang Sun Tzu merupakan karya penting tentang strategi dan taktik militer dan merupakan karya yang paling terkenal dan berpengaruh di antara tujuh karya militer klasik Cina. Selama dua ratus tahun terakhir, risalah seni perang Sun Tzu bertahan sebagai risalah militer paling penting di Asia, bahkan orang awam sekalipun mengetahuinya, paling tidak pernah mendengarnya namanya. Risalah tersebut juga berpengaruh terhadap pemikiran militer, taktik bisnis, taktik hukum, dsb. baik di Timur maupun di Barat.

Perang Korea, 1950 - 1953

Perang Korea merupakan konflik militer antara Korea Selatan, yang dibantu oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Korea Utara, yang dib...