Latar Belakang
Pertempuran Gallipoli dilatarbelakangi kekacauan politik yang berkecamuk di Balkan. Pada 1914, Kesultanan Ottoman di Turki yang sedang mengalami kebangkrutan merupakan "sick man of Europe". Setelah lama dikuasai oleh tirani Sultan Abdul Hamid II, calon kuat penggantinya adalah Mohammed V. Namun, kekuatan yang sebenarnya berada di tangan para "Young Turks", yakni sekelompok revolusioner muda, politisi dan oportunis. Sosok yang menonjol dalam kelompok tersebut adalah Enver Pasha, seorang berdarah Albania yang menjabat sebagai menteri urusan perang (war minister); dia mendapatkan jabatan itu setelah menembak mati pendahulunya.
Terkuras oleh perang di Balkan, Turki pun mencari bantuan dari luar negeri. Enver Pasha mendesak untuk bersekutu dengan Jerman, dan pada 1914 misi militer Jerman tiba di Turki untuk mereorganisasi angkatan darat Turki. Jerman melihat bahwa menjelang perang Eropa, Turki menduduki posisi yang strategis: wilayahnya mengangkangi selat Dardanelles, yang merupakan rute ekspor gandum Rusia, dan juga rute kontak antara Rusia dengan Inggris dan Perancis.
Dua hari sebelum meletusnya perang besar di Eropa, Jerman dan Turki menandatangani aliansi untuk melawan Rusia, walaupun Turki kala itu belum terlibat dalam aksi militer. Namun, ketika Inggris mengambil balik dua kapal perang yang telah dipesan Turki sebelumnya, Jerman mengambil kesempatan untuk mengkompensasi dengan dua kapal perang penjelajah, sehingga memperkuat aliansi militer Turki dengan Jerman di mata dunia. Inggris menarik pulang misi angkatan lautnya sehingga Jerman secara de facto mengendalikan angkatan laut Turki. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pemerintah Turki, pihak Jerman menutup selat Dardanelles dari lalu lintas internasional. Ketegangan antara Sekutu dan Turki secara resmi dimulai pada 31 Oktober 1914.
Pada 1915, front barat mengalami kebuntuan; barisan parit yang saling berhadapan membentang dari laut utara hingga ke Swiss. Di masa itu, Sekutu khawatir bahwa Rusia, yang sempoyongan akibat perubahan situasi serta terganggu pula oleh pergolakan internal, akan tumbang bila tidak mendapatkan pertolongan.
Winston Churchill dan Lord Kitchener telah mendiskusikan kemungkinan untuk menyerang Dardanelles; semestinya serangan tersebut dilakukan oleh Yunani, namun kemudian ternyata Yunani memihak Jerman. Rencana yang kemudian akan dijalankan adalah pendaratan di Semenanjung Gallipoli yang terletak di sisi Mediterania dari Dardanelles, yang diiringi oleh pendaratan di sisi Asia dari kanal. Sementara itu Dardanelles-nya sendiri akan ditundukkan oleh armada kapal perang. Armada ini akan memborbardir meriam-meriam pantai Turki, menyapu padang ranjau, dan mengamankan selat Dardanelles bagi perlintasan gandum dan munisi ke dan dari Rusia. Diharapkan pula unjuk kekuatan ini akan membuatYunani, Bulgaria, dan Rumania berubah pikiran untuk kembali bergabung dengan Sekutu dan dengan demikian menciptakan koalisi yang cukup kuat untuk melumatkan Turki.
Karena bantuan dari Yunani tak kunjung tiba, Kitchener mengirimkan Divisi ke-29 Angkatan Darat Inggris, divisi reguler yang terdiri dari para profesional. Namun empat divisi yang bertugas di Gallipoli akan merupakan divisi-divisi teritorial (Divisi ke-25 dan Divisi ke-52 hingga ke-54). Tiga divisi--yakni Divisi ke-10, ke-11 dan ke-13--akan merupakan pasukan baru Kitchener yang terdiri dari para sukarelawan. Satu divisi terdiri dari sekitar 18.000 personil, dilengkapi dengan sekitar 76 artileri, 48 senapan mesin Vickers, 5.000 kuda, 834 kendaraan dan 54 kendaraan bermotor.
Divisi lain yang juga bertugas di Gallipoli adalah Divisi Berkuda ke-2 Yeomanry, Divisi Angkatan Laut Kerajaan, Royal Marines, Brigade India, Gurkha Rifles, dan Divisi ke-14 Prince of Wales Own Sikh. Di atas segalanya, Gallipoli sinonim dengan Korps Angkatan Darat Australia dan Selandia Baru, yang dikenal sebagai Anzac Troops, yang mengenakan topi khas-nya yang terkenal. Walaupun baru dibentuk dan belum berpengalaman (menurut para perwira Inggris mereka yang kaku, para personil Anzac troops ini kasar dan kurang disiplin)., namun kualitas bertempur, kekuatan fisik, daya tahan dan keberanian mereka mengagumkan; mereka barangkali merupakan pasukan terbaik yang bertempur dalam Perang Besar (the Great War) kala itu. Sementara itu, sebagian besar dari unit Perancis di Gallipoli merupakan campuran dari orang Perancis asli dan unit-unit kolonial Perancis.
Artikel masih dalam proses, akan terus di-update....
Pertempuran Gallipoli dilatarbelakangi kekacauan politik yang berkecamuk di Balkan. Pada 1914, Kesultanan Ottoman di Turki yang sedang mengalami kebangkrutan merupakan "sick man of Europe". Setelah lama dikuasai oleh tirani Sultan Abdul Hamid II, calon kuat penggantinya adalah Mohammed V. Namun, kekuatan yang sebenarnya berada di tangan para "Young Turks", yakni sekelompok revolusioner muda, politisi dan oportunis. Sosok yang menonjol dalam kelompok tersebut adalah Enver Pasha, seorang berdarah Albania yang menjabat sebagai menteri urusan perang (war minister); dia mendapatkan jabatan itu setelah menembak mati pendahulunya.
Terkuras oleh perang di Balkan, Turki pun mencari bantuan dari luar negeri. Enver Pasha mendesak untuk bersekutu dengan Jerman, dan pada 1914 misi militer Jerman tiba di Turki untuk mereorganisasi angkatan darat Turki. Jerman melihat bahwa menjelang perang Eropa, Turki menduduki posisi yang strategis: wilayahnya mengangkangi selat Dardanelles, yang merupakan rute ekspor gandum Rusia, dan juga rute kontak antara Rusia dengan Inggris dan Perancis.
Dua hari sebelum meletusnya perang besar di Eropa, Jerman dan Turki menandatangani aliansi untuk melawan Rusia, walaupun Turki kala itu belum terlibat dalam aksi militer. Namun, ketika Inggris mengambil balik dua kapal perang yang telah dipesan Turki sebelumnya, Jerman mengambil kesempatan untuk mengkompensasi dengan dua kapal perang penjelajah, sehingga memperkuat aliansi militer Turki dengan Jerman di mata dunia. Inggris menarik pulang misi angkatan lautnya sehingga Jerman secara de facto mengendalikan angkatan laut Turki. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pemerintah Turki, pihak Jerman menutup selat Dardanelles dari lalu lintas internasional. Ketegangan antara Sekutu dan Turki secara resmi dimulai pada 31 Oktober 1914.
Pada 1915, front barat mengalami kebuntuan; barisan parit yang saling berhadapan membentang dari laut utara hingga ke Swiss. Di masa itu, Sekutu khawatir bahwa Rusia, yang sempoyongan akibat perubahan situasi serta terganggu pula oleh pergolakan internal, akan tumbang bila tidak mendapatkan pertolongan.
Winston Churchill dan Lord Kitchener telah mendiskusikan kemungkinan untuk menyerang Dardanelles; semestinya serangan tersebut dilakukan oleh Yunani, namun kemudian ternyata Yunani memihak Jerman. Rencana yang kemudian akan dijalankan adalah pendaratan di Semenanjung Gallipoli yang terletak di sisi Mediterania dari Dardanelles, yang diiringi oleh pendaratan di sisi Asia dari kanal. Sementara itu Dardanelles-nya sendiri akan ditundukkan oleh armada kapal perang. Armada ini akan memborbardir meriam-meriam pantai Turki, menyapu padang ranjau, dan mengamankan selat Dardanelles bagi perlintasan gandum dan munisi ke dan dari Rusia. Diharapkan pula unjuk kekuatan ini akan membuatYunani, Bulgaria, dan Rumania berubah pikiran untuk kembali bergabung dengan Sekutu dan dengan demikian menciptakan koalisi yang cukup kuat untuk melumatkan Turki.
Karena bantuan dari Yunani tak kunjung tiba, Kitchener mengirimkan Divisi ke-29 Angkatan Darat Inggris, divisi reguler yang terdiri dari para profesional. Namun empat divisi yang bertugas di Gallipoli akan merupakan divisi-divisi teritorial (Divisi ke-25 dan Divisi ke-52 hingga ke-54). Tiga divisi--yakni Divisi ke-10, ke-11 dan ke-13--akan merupakan pasukan baru Kitchener yang terdiri dari para sukarelawan. Satu divisi terdiri dari sekitar 18.000 personil, dilengkapi dengan sekitar 76 artileri, 48 senapan mesin Vickers, 5.000 kuda, 834 kendaraan dan 54 kendaraan bermotor.
Divisi lain yang juga bertugas di Gallipoli adalah Divisi Berkuda ke-2 Yeomanry, Divisi Angkatan Laut Kerajaan, Royal Marines, Brigade India, Gurkha Rifles, dan Divisi ke-14 Prince of Wales Own Sikh. Di atas segalanya, Gallipoli sinonim dengan Korps Angkatan Darat Australia dan Selandia Baru, yang dikenal sebagai Anzac Troops, yang mengenakan topi khas-nya yang terkenal. Walaupun baru dibentuk dan belum berpengalaman (menurut para perwira Inggris mereka yang kaku, para personil Anzac troops ini kasar dan kurang disiplin)., namun kualitas bertempur, kekuatan fisik, daya tahan dan keberanian mereka mengagumkan; mereka barangkali merupakan pasukan terbaik yang bertempur dalam Perang Besar (the Great War) kala itu. Sementara itu, sebagian besar dari unit Perancis di Gallipoli merupakan campuran dari orang Perancis asli dan unit-unit kolonial Perancis.
Artikel masih dalam proses, akan terus di-update....


No comments:
Post a Comment