Perang Korea dimulai pada 25 Juni 1950 dan berakhir dengan ditandatanganinya perjanjian damai pada 27 Juli 1953. Dari sudut pandang militer, perang ini merupakan kombinasi strategi dan taktik Perang Dunia I dan Perang Dunia II: perang dimulai dengan pergerakan serangan infantri secara cepat kemudian disusul pemboman dari udara, namun sejak Juli 1951 perang berubah menjadi perang parit statis.
Latar Belakang
Penghujung abad ke-19 menyaksikan Jepang dan Rusia bertarung untuk memperebutkan semenanjung Korea. Perang antara kedua negara tersebut dikenal sebagai Russo-Japanese war, berlangsung pada 1904 - 1905, yang berakhir dengan kemenangan Jepang. Sejak itu semenanjung Korea berada di bawah kendali Jepang selama 35 tahun hingga akhir Perang Dunia II.
Ketika Jepang menyerah kalah kepada Sekutu pada Perang Dunia II, pasukan-pasukan Jepang di Korea menyerahkan diri kepada pasukan Tentara Merah (Red Army) Uni Soviet di Parallel ke-38, dan kepada pasukan Amerika Serikat di selatan garis paralel tersebut. Pada waktu itu, Amerika Serikat dan Uni Sovyet menerima tanggungjawab mutual atas semenanjung Korea yang tadinya adalah daerah pendudukan Jepang. Uni Soviet menguasai wilayah utara hingga ke selatan sampai Parallel 38, sedangkan Amerika Serikat mengendalikan wilayah dari Parallel 38 ke selatan.
Kegagalan untuk menyelenggarakan pemilihan bebas untuk seluruh semenanjung Korea memperkuat pemisahan antara utara dan selatan. Pihak utara pun kemudian membentuk pemerintahan komunis. Parallel 38 kemudian meningkat menjadi perbatasan politik di antara kedua Korea. Dua negara baru pun kemudian terbentuk: Republik Rakyat Demokratik Korea (Democratic People's Republic of Korea), atau dikenal sebagai Korea Utara, yang berhaluan komunis, dan Republik Korea Selatan (Republic of South Korea). Di sinilah kemudian pada tahun 1950 Perang Dingin mulai memanas.
Menjelang fajar pada hari Minggu 25 Juni 1950, Tentara Rakyat Korea Utara (North Korean People's Army, NKPA) melancarkan serangan besar-besaran ke Korea Selatan, melintasi Parallel 38. Serangan ini mereka sebut sebagai "Operasi Penyelamatan Tanah Air", dengan alasan untuk membalas provokasi yang dilancarkan oleh Korea Selatan sebelumnya.
Pihak Korea Utara berhasil merebut ibu kota Korea Selatan, Seoul, dalam waktu seminggu. Pasukan Korea Utara mendesak pasukan Korea Selatan dan sejumlah kecil pasukan Amerika Serikat. Pasukan AS dalam waktu cepat mendapatkan bantuan dari Jepang, kemudian kembali lagi ke perimeter kecil di sekitar pelabuhan paling utara Pusan. Sementara itu, Korea Selatan meminta pertolongan kepada PBB, yang didukung 53 negara anggota PBB, dan 17 di antaranya bahkan mengirimkan pasukan untuk terbang ke Korea Selatan.
Sepanjang Agustus s.d. September, Korea Utara berusaha merebut Pusan, namun Jenderal Walton Walker, komandan U.S Eight Army, mampu menahan serangan tersebut, bahkan bersiap-siap untuk melakukan serangan balasan. Serangan balasan ini termasuk bagian dari pendaratan amfibi di Inchon pada 15 September 1950 (yang dirancang dan dilaksana dengan brilian oleh Jendral MacArthur) yang diarahkan untuk merebut kembali kota Seoul. Pada 16 September 1950, berkoordinasi dengan pendaratan amfibi, U.S Eight Army melancarkan serangan, menembus Pusan, bergabung dengan pasukan pendaratan, dan mengusir musuh keluar dari Korea Selatan.
Sementara itu PBB kemudian memerintahkan pasukan-pasukannya untuk menindaklanjuti dan menghancurkan tentara Korea Utara, walaupun Cina mengancam untuk turun tangan. Setelah merebut Pyongyang (ibu kota Korea Utara), pasukan-pasukan PBB melaju ke utara melalui sungai Yalu, yakin bahwa Cina hanya menggertak. Ternyata tidak demikian...
Pada 25 November 1950, sebanyak 180.000 personil tentara Cina melakukan serangan masif terhadap pasukan PBB hingga terdesak mundur ke Selatan melampaui Parallel ke 38. Cina kemudian merebut Seoul pada awal Januari 1951. Jenderal Walker tewas dalam kecelakaan jeep dan digantikan oleh Jenderal Matthew Ridgway. Pada pertengahan Januari 1951 serangan Cina kehabisan tenaga sehingga pasukan PBB dapat melakukan serangan balik, merebut kembali Seoul pada 14 Maret 1951 dan menstabilkan garis depan sehingga berada pada sepanjang Parallel ke-38 pada awal April.
Pada 22 April 1951, Cina kembali melakukan serangan, namun dapat ditahan berkat aksi gagah berani pasukan PBB, misalnya seperti yang ditunjukkan oleh para anggota batalion Gloucestershire di sungai Imjin. Serangan Cina yang selanjuynya dimulai pada 15 Mei, namun sekali lagi dapat dipatahkan dan garis depan akhirnya dapat distabilkan sekitar 20 mil sebelah utara Parallel ke-38 pada pertengahan Juni. Cina menggunakan jumlah pasukan yang masif dalam upayanya untuk menghantam pasukan PBB, namun dapat ditahan melalui pemboman secara besar-besaran.
Sejak itu hingga penandatanganan gencatan senjata pada 27 Juli 1953,
Pada 25 November 1950, sebanyak 180.000 personil tentara Cina melakukan serangan masif terhadap pasukan PBB hingga terdesak mundur ke Selatan melampaui Parallel ke 38. Cina kemudian merebut Seoul pada awal Januari 1951. Jenderal Walker tewas dalam kecelakaan jeep dan digantikan oleh Jenderal Matthew Ridgway. Pada pertengahan Januari 1951 serangan Cina kehabisan tenaga sehingga pasukan PBB dapat melakukan serangan balik, merebut kembali Seoul pada 14 Maret 1951 dan menstabilkan garis depan sehingga berada pada sepanjang Parallel ke-38 pada awal April.
Pada 22 April 1951, Cina kembali melakukan serangan, namun dapat ditahan berkat aksi gagah berani pasukan PBB, misalnya seperti yang ditunjukkan oleh para anggota batalion Gloucestershire di sungai Imjin. Serangan Cina yang selanjuynya dimulai pada 15 Mei, namun sekali lagi dapat dipatahkan dan garis depan akhirnya dapat distabilkan sekitar 20 mil sebelah utara Parallel ke-38 pada pertengahan Juni. Cina menggunakan jumlah pasukan yang masif dalam upayanya untuk menghantam pasukan PBB, namun dapat ditahan melalui pemboman secara besar-besaran.
Sejak itu hingga penandatanganan gencatan senjata pada 27 Juli 1953,


No comments:
Post a Comment